Komitmen dan Inovasi Tanpa Henti Industri Kehutanan Melestarikan Lingkungan
Rabu, 16 Desember 2009Pengukuhan Cagar Biosfer GSK – BB oleh Council of the Man and the Biosphere Programme (MAB-ICC) UNESCO merupakan sebuah awal dari begitu banyak hal yang harus dilakukan seputar pelestarian keanekaragaman hayati. Kehadirannya menunjukkan apresiasi dunia atas komitmen, determinasi dan inovasi Sinar Mas dalam melestarikan lingkungan, yang diharapkan dapat menjadi warisan bagi peradaban Indonesia serta dunia.
Diterimanya usulan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil – Bukit Batu (GSK – BB) dalam 21st Session of the International Coordinating Council of the Man and the Biosphere Programme (MAB-ICC) UNESCO di Pulau Jeju, Korea, 26 Mei lalu menjadikan Indonesia kembali berkontribusi dalam pelestarian keanekaragaman hayati dunia. Keberadaan Cagar Biosfer GSK – BB sebagai satu dari 533 cagar biosfer yang tersebar di 107 negara dan tergabung dalam UNESCO’s World Network of Biosphere Reserves (WNBR) menjadi begitu penting dan berharga bagi Indonesia, mengingat dengan luas wilayah berikut keunikan dan keanekragamanhayati yang dimiliki, Indonesia sebelumnya baru memiliki enam cagar biosfer, dimana dua cagar terakhir, yaitu Cagar Biosfer Gunung Leuser dan Pulau Siberut ditetapkan pada tahun 1981. Artinya setelah 27 tahun Indonesia baru memiliki satu lagi cagar biosfer. Terasa lebih istimewa, karena cagar biosfer kali ini adalah untuk pertama kalinya diinisiasi oleh sektor industri. “Usulan pembangunan cagar biosfer yang diajukan Sinar Mas ini adalah pertama kalinya di dunia datang dari sektor industri. Kami berharap kepedulian ini dapat terus berjalan dengan konsisten sekaligus menjadi contoh serta awal yang baik bagi kalangan industri untuk selalu peduli pada pelestarian keanekaragaman hayati,” kata Prof. Dr. Endang Sukara, Ketua Komite Nasional Man and the Biosphere Indonesia yang juga Deputi Ilmu Pengetahuan Hayati LIPI.
Lingkungan yang lestari adalah kepentingan seluruh pihak, termasuk pula sektor industri. Bagi Sinar Mas, untuk dapat beroperasi secara berkelanjutan dan membawa manfaat bagi bangsa dan negara, lingkungan yang terpelihara adalah salah satu tiang penyangga. “Bagi industri kehutanan seperti kami, keberlanjutan usaha dapat terbangun melalui sinergi aspek produksi yang ramah lingkungan serta pelestarian lingkungan itu sendiri. Untuk dapat terus berproduksi kami harus senantiasa melakukan penanaman berikut memelihara lansekap (bentang alam) ekosistem sekitar sesuai konsep pengelolaan hutan tanaman secara lestari. Itu yang mendorong kami mengajukan usulan Cagar Biosfer Giam Siak Kecil – Bukit Batu kepada pemerintah,” kata Advisor for Environmental Management Sinar Mas Forestry, Canecio P. Munoz. Sinar Mas Forestry sendiri adalah perusahaan pengelola hutan tanaman yang bertugas sebagai pemasok bahan baku utama Asia Pulp & Paper (APP).
Cagar Biosfer GSK – BB yang berada di antara wilayah Kabupaten Bengkalis dan Kabupaten Siak, berawal ketika pada tahun 2004, Sinar Mas Forestry bersama mitra kerjanya dengan dukungan APP – menyisihkan areal hutan produksi seluas 72.255 hektar sebagai koridor ekologis, sehingga kawasan Giam Siak Kecil dan Bukit Batu tergabung menjadi sebuah kawasan konservasi. Hutan rawa gambut Suaka Margasatwa Giam Siak Kecil seluas 84.967 hektar dan Suaka Margasatwa Bukit Batu seluas 21.500 hektar merupakan bagian dari eco-region hutan Sumatera sebelumnya telah teridentifikasi oleh LIPI sebagai sebuah areal yang didiami sedikitnya oleh 159 jenis burung, 10 jenis mamalia, 13 jenis ikan, 8 jenis reptil berikut 52 jenis tumbuhan langka dan dilindungi. Kondisi tersebut melatarbelakangi inisiatif Sinar Mas Forestry menggabungkan dua kawasan tadi, sehingga tercipta areal inti cagar biosfer seluas 178.722 hektar. Sebagian besar dari zona penyangga seluas 222.425 hektar disekitar Cagar Biosfer GSK – BB terdiri atas hutan tanaman Sinar Mas Forestry dan mitra mereka yang menjadi kunci efektivitas perlindungan area inti. Sementara pada bagian terluar terdapat zona transisi seluas 304.123 hektar yang menjadi areal kerjasama pengembangan model pembangunan berkelanjutan di bidang perkebunan, pertanian tanaman pangan, perikanan hingga pemukiman. Ketiga zonasi yang ada disana dikelola menggunakan pendekatan lansekap yang didasarkan pada kebutuhan dan kondisi setempat. Zona penyangga berupa hutan tanaman diharapkan mampu menjamin kelestarian zona inti, karena kawasan ini selalu mendapatkan pengelolaan dan pengawasan yang baik dari Sinar Mas Forestry. Pada bulan September 2008, usulan (nomination form) cagar biosfer berikut usulan rencana pengelolaannya diajukan ke UNESCO, Paris melalui Komite Nasional Program Man and the Biosphere Indonesia. Kemudian pada tanggal 18 Oktober 2008 lalu, Menteri Kehutanan beserta jajarannya berkesempatan hadir guna melihat kesiapan di lapangan pasca pengajuan usulan ketika itu. Sementara gelaran UN Climate Change Conference di Bali tahun 2007 silam menjadi kali pertama usulan ini diperkenalkan kepada masyarakat internasional.
Pengelolaan cagar biosfer yang berpedoman pada konsep Man and the Biospehere UNESCO dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari Departemen Kehutanan, LIPI, pemerintah daerah, industri kehutanan, akademisi, pemerhati lingkungan hingga masyarakat sekitar sebagai sebuah konsep pengelolaan lansekap, sehingga keberadaan cagar biosfer GSK – BB mampu menjalankan berbagai peran, mulai dari fungsi konservasi, penelitian dan pengembangan serta pembangunan berkelanjutan. Manakala ketiga fungsi tersebut berjalan dengan baik, maka diyakini akan mampu membangun dan memelihara harmonisasi antara manusia dan lingkungannya. Yang berarti pula, acaman perambahan kawasan hutan, penebangan liar, perburuan liar dan kebakaran hutan di kawasan tersebut dapat diminimalisasi di tengah kehidupan sosial ekonomi masyakarat sekitar yang semakin baik. Sekretaris Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam (PHKA) Departemen Kehutanan, Dr Haryadi Himawan, menilai pengukuhan cagar biosfer membuat daya tahan lingkungan di kawasan tersebut meningkat, yang berarti menjamin keberadaan dua suaka margasatwa yang ada di sana.
Pengukuhan Cagar Biosfer GSK – BB oleh Council of the Man and the Biosphere Programme (MAB-ICC) UNESCO bukanlah sebuah puncak dan akhir, melainkan sebuah awal dari begitu banyak hal yang harus dilakukan seputar pelestarian keanekaragaman hayati. Namun, kehadirannya menunjukkan apresiasi dunia atas komitmen, determinasi dan inovasi Sinar Mas dalam melestarikan lingkungan, yang kita harapkan dapat menjadi warisan bagi peradaban Indonesia serta dunia.