Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil tahun pertama, Zaqy Omar Ibrahim, Jumat siang (8/5/2026) di salah satu sudut kampus menceritakan jika kehadiran Sinar Mas menaungi almamaternya adalah menjadi pertimbangan penting yang mendorong dirinya memilih berkuliah di sana. “Dari hasil obrolan saya dengan orang tua, prospek kerjanya nanti lebih pasti, sementara dari yang saya baca, ITSB adalah kerja sama kampus ternama ITB dengan Sinar Mas, yang mestinya lebih dapat menjamin masa depan saya. Selain itu saya juga mendapatkan beasiswa yang sangat membantu mengurangi beban orang tua,” ujar lulusan SMK Perguruan Cikini, Tanjung Priok, Jakarta Utara mengisahkan bagaimana dirinya sampai menetapkan hati ke kampus Deltamas.
Sang ayah serta pamannya yang berwirausaha di sektor konstruksi membuat mereka tidak asing dengan kiprah Sinar Mas sehingga mereferensikan Omar untuk berkuliah di Institut Teknologi Sains Bandung. Pertimbangan lembaga penaung juga melatari pertimbangan kakak kelas Omar asal Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fionna Fathimah. Penelusuran di mesin pencari menurutnya membawanya ke situs ITSB yang menuliskan keberadaannya sebagai feeder university dari Institut Teknologi Bandung. “Di web itu tertulis kalau misalkan kami mampu menjadi mahasiswa berprestasi, dengan IPK (Indeks Prestasi Kumulatif) 4, kami berkesempatan melanjutkan kuliah ke ITB,” kata Fionna yang asal Bekasi tentang awal ketertarikannya.

Rektor ITSB, Carmadi Machbub (berdiri di tengah) dalam dialog saat menerima kunjungan pimpinan pilar usaha serta para advisers Sinar Mas ke kampus, Selasa (9/6/2026).
Waktu berlalu dan penyesuaian berlangsung yang membuat ITSB kini tidak lagi mengirimkan mahasiswanya ke ITB. Namun situasi itu tidak lantas membuat kampus dengan konsep bangunan hijau ini kehilangan pesonanya. “Terus ada juga tertulis bila para dosen di sini banyak yang berasal dari ITB, kerén gitu. Aku menangkap mereka adalah pengajar berkualitas yang akan membawaku berkembang,” sambung Fionna mengenai minatnya yang tak luntur untuk berkuliah di sana.
Meski demikian, keberadaan dua entitas penaung bereputasi tadi oleh Rektor ITSB, Carmadi Machbub justru dirasakan belum cukup. “Apa yang dilihat publik tadi tentu menjadi faktor penting, membangun optimisme. Tetapi tidak cukup hanya itu karena untuk dapat menjadi perguruan tinggi pilihan, mereka juga ingin melihat seberapa jauh kualitas pembelajaran ITSB, antara lain dengan melihat ke status akreditasi yang dimiliki. Meski bukan satu-satunya tolok ukur, tapi akreditasi menjadi acuan yang paling dipahami masyarakat. Nah, kami harus mengejar peningkatan akreditasi itu,” kata rektor.

Mahasiswa Fakultas Teknik Sipil, Zaqy Omar Ibrahim berdiri di depan gedung program studinya. Menurutnya, beasiswa mampu meringankan hingga 70 persen biaya pendidikan dirinya di ITSB.
Selain relasi, tersedianya beragam beasiswa menjadi daya tarik tersendiri bagi para calon mahasiswa. Menurut Omar sebagai penerima beasiswa dirinya setiap semester dapat menghemat hingga sebesar 70 persen dari biaya perkuliahan – hal yang menurutnya membantu mengurangi beban orang tuanya – dengan catatan IPK yang diraihnya tidak boleh kurang dari tiga. Saat ini dirinya bisa menarik napas lega. “IPK saya bertahan di tiga, syukur-syukur dapat meningkat nanti. Karena kalau sampai dua semester berturut-turut di bawah tiga, berlaku konsekuensi pemutusan beasiswa dari kampus,” ceritanya.
Selain meningkatkan akreditasi berikut menyediakan beasiswa, berpromosi juga menjadi hal penting yang tidak dapat dilupakan. Satu di antaranya berlangsung dengan mengajak mahasiswa untuk menggunakan akun media sosial mereka guna memperkenalkan almamaternya. Inisiatif ini rupanya cukup berdaya. “Aku sempat melihat TikTok live seorang kakak tingkat. Dari sana tahu tentang ITSB dan memutuskan berkuliah di sini,” cerita Keisha Leotta, mahasiswa semester dua dari Program Studi Diploma 4 Teknologi Pengolahan Pulp dan Kertas yang berasal dari Surabaya. Ketertarikannya bergabung ke ITSB membuatnya menyimpan niatnya mendalami pendidikan kebidanan.

Mahasiswi Program Studi Perencanaan Wilayah dan Kota, Fionna Fathimah mengaku berhasil berjejaring dengan para dosennya yang berasal dari Institut Teknologi Bandung.
Sementara Omar termasuk mahasiswa yang mengetahui keberadaan ITSB dari penelusuran melalui internet. Karena hingga kini masih berhubungan erat dengan teman-teman semasa sekolah dulu, dari sana ia mengetahui bila beberapa dari mereka tertarik untuk mengetahui lebih jauh tentang kampus yang berada di Jalan Ganesha Boulevard, Kota Deltamas ini. “Kagum juga mereka karena saya lulusan SMK Percik (Perguruan Cikini) pertama yang berkuliah di sini. Seorang seperti saya gitu, kok bisa sampai dapat beasiswa. Terus mereka tertarik juga untuk mencari tahu tentang ITSB,” ceritanya. Belasan adik kelasnya, menurut Omar turut mendaftarkan diri mengikuti jejaknya.
Omar adalah satu contoh bagaimana pentingnya ITSB mempromosikan program studi yang mereka selenggarakan, menjangkau para lulusan sekolah menengah dari luar kawasan Kabupaten Bekasi. “Sebelumnya, kenapa abang-abang saya, kakak-kakak saya satu almamater belum ada di sini? Karena baru tahun kemarin ITSB menjangkau sekolah-sekolah di Jakarta Utara,” ujarnya sembari mengharapkan agar promosi terus berlangsung meluas. Hal mana layaknya gayung bersambut karena pihak rektorat meyakini bagi perguruan tinggi swasta, promosi adalah keniscayaan. Khususnya bagi perguruan tinggi yang tengah berjuang meningkatkan akreditasinya. “Kita harus aktif menawarkan program studi yang ada serta berbagai hal lain yang membuat para calon mahasiswa itu lebih optimistis kalau bergabung ke sini. Karena kita kan bicara tentang masa depan mereka,” kata Carmadi.

Mahasiswi semester dua dari Program Studi Diploma 4 Teknologi Pengolahan Pulp dan Kertas, Keisha Leotta berpendapat ITSB membantunya semakin berkembang.
Selagi akreditasi terus ditingkatkan beriringan dengan upaya berpromosi menjangkau khalayak yang lebih luas, sivitas akademika juga membangun landasan menuju keberlanjutan pembelajaran, antara lain dengan menyesuaikan statuta yang ada setahun silam sehingga memungkinkan ITSB bergerak menuju research university. “Dulu kami ingin menjadi perguruan tinggi terkemuka di bidang sains dan teknologi. Nah, sekarang kami ingin menjadi perguruan tinggi terkemuka di bidang sains, teknologi dan bisnis. Ada disebut aspek bisnis itu. Mudah-mudahan dalam 15 hingga 20 tahun ke depan hal ini sudah mewujud. Sebagai langkah awal kami akan merintis pembukaan program-program studi tingkat magister dan doktor,” ujar Carmadi saat ditemui di kampus memaparkan bagaimana visi ITSB terkini menyediakan jalan bagi lembaga yang dipimpinnya bertransformasi menjadi universitas.
Menurutnya, pengembangan yang tengah berlangsung saat ini dan juga ke depan nanti, dilakukan dengan berpedoman pada kebijakan industri nasional. “Tentu saja kita perlu menerjemahkannya baik secara konseptual maupun secara kuantitatif, karena program pendidikan di perguruan tinggi pada hakekatnya bertujuan menyiapkan talenta, kepemimpinan, dan angkatan kerja untuk kebutuhan pembangunan di masa depan. Kami menyarikan kebijakan industri tadi dalam tiga kata kunci, yakni hilirisasi, industri hijau dan digital. Sejak tahun akademik yang lalu kami mulai menerapkan kurikulum Outcome-Based Education (OBE), di mana masing-masing program studi melibatkan para pemangku kepentingan khususnya dari dunia industri dan asosiasi profesi atau asosiasi program studinya dalam merumuskan kurikulum yang adaptif serta memenuhi kebutuhan industri tadi,” ungkapnya.

Saling mengenal antara sivitas akademika ITSB dengan para pimpinan serta penasihat dari pilar usaha Sinar Mas lewat SM Pillars x ITSB Campus Visit, Selasa (9/6/2026).
Dengan kata lain, pembeda dari perguruan tinggi lain yang selama ini ada pada ITSB yaitu keunggulan lokasi karena berada di kawasan industri, diferensiasi kurikulum yang khas di mana penyusunannya melibatkan kolaborasi lintas pemangku kepentingan, berikut dukungan langsung sektor industri, tetap menjadi landasannya.Terlebih peluang berkontribusi pada ranah perekonomian, industrialisasi serta aspek sosial kawasan masih tersedia luas. “ITSB berada di wilayah Kabupaten Bekasi yang di dalamnya terdiri atas banyak kawasan industri yang sangat hidup, sehingga banyak membutuhkan tenaga terdidik. Ini merupakan kesempatan yang baik untuk berkontribusi dalam mencerdaskan generasi muda di kawasan ini,” kata Carmadi.
Bergabung di sebuah perguruan tinggi yang tengah bertransformasi ternyata memberikan privilese tersendiri bagi para mahasiswanya. Berada di antara 1.700 mahasiswa menjadikan upaya membangun jejaring atau relasi dengan segenap sivitas akademika berlangsung lebih nyaman. Seperti disampaikan Fionna, yang mendengar komentar beberapa rekannya yang berkuliah di perguruan tinggi lain dengan jumlah mahasiswa lebih besar. “Keunggulan yang paling aku rasakan itu saat berupaya mendapatkan relasi sih. Saat ini aku sudah mendapatkan relasi para dosen yang berasal dari ITB. Selain mendapatkan teman yang datang dari berbagai kota.”

Kesamaan pose menjadi simbolisasi kesinambungan pengembangan pembelajaran di kampus. Seperti saat Rektor ITSB, Carmadi Machbub berdiri di depan kampus, Jumat (8/5/2026) …
Bahkan Keisha punya perspektif yang ‘berbeda’ seputar kehadirannya di ITSB. Walaupun tidak mengelaborasi secara terbuka ingin menjadi sosok seperti dan sebesar apa, ia mengatakan, “Mereka yang belum tahu dapat mengatakan apapun, namun aku justru menikmati berada di kampus yang tengah berkembang karena kesempatan untuk terpantau dan turut menjadi besar lebih terbuka, dibandingkan di tempat lain yang menempatkankanku sebagai sosok kecil di kampus yang besar.”
Apa yang kini tengah berlangsung, di kemudian hari akan mengantarkan ITSB menjadi sebuah universitas riset, di mana ide menjadi besar di tempat yang kecil seperti yang sebelumnya diungkapkan Keisha tampaknya tak berlaku lagi. Tergantikan harapan bersama bila nantinya semua berkesempatan menjadi besar di tempat yang besar melalui tradisi riset akademik yang kuat. Apa yang sebagian tergambar dari rencana ITSB untuk dapat menaungi hingga 2.500 mahasiswa hingga pengujung tahun 2026 ini. Saat ini, meminjam pembahasaan Rektor ITSB, “Kami harus berlari lebih cepat dan membangun kesebelasan yang tangguh. Merumuskan organisasi dan tata kelola baru, juga berupaya untuk menumbuhkan atmosfer akademik yang kondusif agar kegiatan pendidikan, penelitian dan pengabdian kepada masyarakat berjalan dengan baik dan berkualitas.”

… dengan pendahulunya Ari Darmawan Pasek yang pada tahun 2014 silam berpose di tempat yang sama.
Siang itu Carmadi Machbub menyediakan diri untuk berpose di serambi utama kampus, di mana pose serupa pernah dilakukan juga oleh pendahulunya Ari Darmawan Pasek tahun 2015 silam, juga di tempat yang sama. Kesamaan yang dapat pula dimaknai sebagai simbolisasi perjalanan waktu serta pergantian kepemimpinan berlangsung, penyikapan terkini terjadi, tapi kesinambungan ITSB sebagai selaku perguruan tinggi selalu terjaga.
Karena kekuatan utama yang menjadikan sebuah perguruan tinggi menjadi pilihan tak hanya lembaga penaungnya, melainkan juga kemampuannya menjamin keberlanjutan pembelajaran, yang mengantarkan lulusannya mampu merespon beragam tantangan dalam kehidupan nyata, khususnya di dunia kerja. Sebagaimana penggambaran yang disampaikan rektor. “Lembaga penaung kan tidak bisa juga menjamin bahwa lulusan kami dapat langsung diterima semua, karena perekrutan mereka juga berdasarkan pada kompetensi yang memang sesuai. Itu yang menjadi tantangan kami di sini, meyakinkan mereka bahwa kami semakin profesional serta mendidik mahasiswa sedemikian rupa sehingga dapat memenuhi requirement, misalnya dari Sinar Mas.”

Para mahasiswa beraksi di lobi utama kampus. Kelak adik tingkat mereka akan menuntaskan studinya sebagai lulusan universitas di tempat yang sama.
Penulis: Jaka Anindita
Kontributor: Adila Komala Dewi
Foto: Maulana Adjie, koleksi ITSB
Share On Facebook
Tweet It

