Breaking

Beasiswa Bagi yang Berkarakter

Lensa ETF / August 8, 2015

“siswa yang berkarakter baik, berdisiplin, dan memahami tanggung jawabnya sebagai penerima beasiswa, tentu berpeluang besar untuk berhasil.”

 

Memberikan lebih dari 2.300 beasiswa, sejak tahun 2007 bukanlah hal sederhana. Ada proses berliku menyaring para penerimanya. Membangun kesepahaman dan sinergi dengan lembaga pendidikan tempat para penerima beasiswa tadi belajar juga sebuah proses berkesinambungan tanpa henti. Bagaimana mengelola dana bantuan itu agar sampai tepat waktu dan sesuai peruntukannya juga sama menantangnya. Belum lagi jika membahas jumlah dana yang telah dikeluarkan untuk seluruh beasiswa itu. Jika sampai entitas bisnis menyalurkan beasiswa, pastinya bukan karena itu langkah filantropi paling mudah untuk dilakukan. Karena mengelola beasiswa tidak mudah.

Indonesia tahun lalu memiliki angka partisipasi kasar pendidikan tinggi sekitar 28 persen. Mereka adalah sosok berusia 19 hingga 23 tahun yang mampu menjangkau jenjang pendidikan tinggi. Dengan kata lain, lebih dari 70 persen lainnya belum bisa merasakan pendidikan tinggi. Pemerintah berencana agar angka partisipasi di tahun ini bisa meningkat sampai 35 persen. Jika melihat pada upaya meningkatkan kualitas sumber daya manusia, termasuk kualitas angkatan kerja, ini menjadi kepentingan seluruh komponen bangsa Indonesia. Jika sektor privat seperti Sinar Mas melalui Eka Tjipta Foundation berkomitmen dalam pemberian beasiswa, karena memang itu harus dilakukan.

 

Pendiri Indonesia Heritage Foundation, Ratna Megawangi. Populasi terbesar bisa dijangkau dengan beasiswa yang fokus pada pembangunan karakter penerimanya

 

“Pemerintah memiliki keterbatasan jika dibiarkan sendirian memberdayakan masyarakat. Swasta harus membantu. Kalau program beasiswa yang kita lakukan berhasil, kita bisa menjadikannya sebagai sebuah model. Silakan saja kalau pihak lain ingin mencoba melakukannya, karena ini kan demi kepentingan bangsa dan negara, bukan hanya untuk ETF atau Sinar Mas semata,” kata Direktur Eksekutif Eka Tjipta Foundation, Hasan Karman.

Lantas bagaimana menjawab pertanyaan yang selalu muncul: kepada siapa beasiswa sebaiknya disalurkan, sosok yang cerdas, yang tidak terlalu cerdas, yang kurang mampu secara ekonomi, atau kombinasi dari unsur-unsur tadi? “Selama ini ETF memberikan beasiswa secara fleksibel, tidak kaku. Sementara yang ideal, beasiswa diberikan dengan pertimbangan latar belakang ekonomi sekaligus kemampuan akademik penerimanya.” Alasannya, “Jika seseorang dengan kemampuan akademik baik dan latar belakang ekonominya mencukupi, untuk apa lagi dia menerima beasiswa? Biarkan itu diberikan kepada yang tidak mampu, sehingga ada pemerataan. Sementara mereka yang prestasi akademiknya tidak memadai, untuk apa ngotot mendapatkan beasiswa? Kemungkinan nantinya malah akan gagal,” ujarnya.

Menurut Hasan, beasiswa yang diberikan melalui jalur kerja sama dengan institusi tertentu memiliki pertimbangan yang berbeda. ETF mempercayakan mitranya tadi dalam menyeleksi para penerima beasiswa. “Menurut saya harus mix antara prestasi akademik si penerima beasiswa dengan latar belakang ekonominya. Sehingga anggaran yang kita alokasikan juga bisa terdistribusikan dengan tepat.”

Sementara praktisi pendidikan dan pendiri Indonesia Heritage Foundation, Ratna Megawangi menyarankan agar aspek karakter atau soft skill dapat menjadi pertimbangan dalam seleksi calon penerima beasiswa. “Sudah sejak lama perusahaan-perusahaan menyediakan berbagai beasiswa, namun peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia belum juga signifikan,” ujarnya merujuk pada penilaian high order thinking skill yang dilakukan Programme for International Student Assessment, penilaian Global Creativity Index, Global Innovation Index, Global Integrity Report, Human Development Index dan beberapa penilaian sejenis lainnya.

 

“yang ideal, beasiswa diberikan dengan pertimbangan latar belakang ekonomi sekaligus kemampuan akademik penerimanya”

 

Beasiswa yang banyak menyasar sosok dengan kemampuan akademis istimewa menurutnya tidak keliru. Namun mereka yang tergolong di atas rata-rata hingga istimewa ini jumlahnya hanya sekitar 20 persen dari total populasi. Selain jumlahnya sedikit, kemampuan akademis menurut Ratna tidak selalu berbanding lurus dengan karakter yang baik. Akibatnya peningkatan kualitas SDM berjalan lambat.

Bagaimana seorang siswa bisa saja memiliki kemampuan akademis istimewa, namun justru tidak memiliki karakter yang baik dicontohkannya dengan menilik pada sistem pendidikan nasional yang setelah sekian lama masih mengedepankan keandalan menghafal, berpikir secara linier, benar-salah, serta kurang mengedepankan analisis dan pemecahan masalah. Dengan jumlah mata pelajaran yang begitu banyak, tumpukan pekerjaan rumah dan pemeringkatan di kelas, membuat bersekolah menjadi aktivitas yang menegangkan, membebani dan dijalani penuh keterpaksaan. Hasilnya, siswa yang istimewa pun berpotensi menjadi sosok yang kurang memiliki inisiatif dan kreativitas, egoistis, sukar bekerja sama, sulit menerima kritik, berat menerima perbedaan, bahkan mudah tersinggung. Karakter memang dipengaruhi banyak hal, tapi lingkungan pendidikan adalah salah satu yang paling berpengaruh.

Selaras dengan Ratna, Hasan melihatnya dari sudut yang berbeda, “Problem terbesar bangsa ini adalah karakter. Kita bisa melihatnya dari korupsi yang menggurita, disiplin yang lemah, atau toleransi yang menipis. Saya setuju seleksi pemberian beasiswa juga menilai karakter para calon penerimanya. Karena karakter dapat menentukan apakah mereka akan berhasil atau tidak. Siswa yang berkarakter baik, berdisiplin, dan memahami tanggung jawabnya sebagai penerima beasiswa, tentu berpeluang besar untuk berhasil. Jika dia berkarakter negatif, tidak ada rasa tanggung jawab, peluangnya untuk gagal semakin terbuka,” Hasan memberikan gambaran.

Lantas bagi mereka yang kemampuan akademisnya tergolong rata-rata atau mungkin di bawah rata-rata, yang jumlahnya justru mencapai lebih dari 80 persen dari total populasi, menurut Ratna tetap bisa dijangkau dengan menginisiasi beasiswa yang fokus pada pembangunan karakter penerimanya. Karakter yang terbentuk dengan baik, membuat mereka berkesempatan lebih besar untuk menggali potensi diri lainnya, di luar kecerdasan akademis, yang bisa menjadi bekal mereka menjalani kehidupan.

“Misalnya dengan memberikan bantuan pendidikan untuk memperkuat kapasitas atau kualitas sekolah dalam menyediakan lingkungan yang nyaman bagi para pendidik dan siswanya, berikut mengembangkan karakter mereka. Terutama di fase awal pendidikan, seperti usia dini dan dasar, karena disinilah karakter sesorang di bentuk. Selain itu, bantuan dapat pula ditujukan ke sekolah-sekolah alternatif yang memiliki pembobotan pada pengembangan karakter atau kepemimpinan. Cara semacam ini juga membuat lebih banyak lagi peserta didik yang mendapat kesempatan mempertajam karakter mereka,” sarannya.

“Selama ini ETF belum memiliki manual standar penilaian seleksi penerima beasiswa. Kadang berpegang pada rekomendasi dari mitra, kadang berdasarkan pada latar belakang ekonomi maupun akademik para siswa. Kriteria tadi baik, tapi masih subyektif, dan belum tentu memenuhi aspek karakter tadi. Ke depan, kami akan coba memasukkan persyaratan karakter. Bagaimana pengujiannya, diperlukan alat ukur yang harus disepakati bersama. Mudah-mudahan tahun depan kami sudah memiliki panduannya,” kata Hasan berencana.

Bagi Sinar Mas yang selama ini mengenal 6 Nilai Luhur atau Sinar Mas 6 Value, yang muatannya memang ada pada pengembangan karakter, tentu rencana ini terasa pas. Bersiaplah, ke depan, beasiswa yang diberikan oleh ETF akan memperhitungkan aspek karakter.

 

Reporter: Jaka Anindita

 






Jaka Anindita
Pemimpin Redaksi




Next Post

Selamat Datang, dan Selamat Bekerja: GROW ASIA