Breaking

TEKNOLOGI DIRGANTARA, untuk Menjaga Kedaulatan Negara

Lensa ETF / Top News / May 2, 2017

Indonesia yang negara kepulauan memunculkan banyak ide menarik. Presiden RI ke-3 yang pakar penerbangan, BJ Habibie melihat keberadaan industri dirgantara yang mandiri akan membantu mobilitas orang dan barang ke pelosok negeri. Sementara Presiden Joko Widodo melengkapi ide itu dengan mengajak bangsa Indonesia kembali ke akar histori selaku bangsa bahari, melalui program tol laut-nya. Sedangkan generasi yang lebih muda banyak pula yang melihat kalau menjadi pilot adalah pilihan karir menarik dengan melihat kalau penerbangan komersial adalah salah satu bisnis yang berkembang sangat baik di negeri ini.

Ada juga yang berpikir atas pertimbangan kedaulatan. Wilayah udara Indonesia yang luas membutuhkan penjagaan yang prima, dan yang mampu menjembatani kebutuhan ini adalah teknologi dirgantara, lewat sistem pertahanan udara yang mumpuni. Orang yang mendengarnya, akan menganggap cara pandang ini berasal dari kalangan militer, sampai mereka bersua dengan sosok Faisal Irsyad, pemuda lulusan program Aerospace Engineering di University of Manchester, Inggris. “Saya ingin berkontribusi membangun kedaulatan negara di bidang digantara,” ujarnya singkat, tapi pastinya tidak sederhana.

 

Wisudawan Hogwarts School of Witchcraft and Wizardry? Bukan, ini wisudawan dari School of Mechanical, Aerospace and Civil Engineering University of Manchester.

 

Empat tahun di Grafton Street membuatnya seperti berada di oase yang bisa mewujudkan semua niatnya. Antara lain saat hasil rekayasa teknologi wahana udara tak berawak yang dilakukan bersama rekan-rekannya yang tergabung dalam University of Manchester Unmanned Aerial Vehicle (UAV) Society dinilai layak mewakili almamater mereka dalam gelaran British Model Flying Association Electric Competition tahun 2013 dan 2014. Sebuah ajang kompetisi UAV yang pesertanya datang dari seluruh perguruan tinggi di Inggris.

Dirinya meyakini kalau masa depan dunia penerbangan akan semakin mengarah pada penggunaan teknologi UAV, karena lewat teknologi komunikasi dan elektronika yang semakin efisien, pesawat dapat diterbangkan menggunakan sistem kendali jarak jauh dengan ketahanan melebihi pesawat berawak. Sekaligus menihilkan risiko kelelahan atau korban jiwa di pihak operator – baik untuk keperluan sipil maupun militer – saat menjangkau lokasi dengan tingkat kesulitan tinggi. Dan ia juga yakin jika hal ini bisa menjadi pilihan yang menguntungkan bagi Indonesia.

Tahun 2015, ‘permainannya’ semakin berbobot karena dirinya dipercaya menjadi Research Assistant di bidang Irradiation Creep in Nuclear Graphite. Pemerintah Inggris memang tengah memperbarui teknologi reaktor nuklir sekaligus menonaktifkan sejumlah reaktor lawas yang mereka miliki. “Kami harus membuat pemrograman komputer yang dapat mensimulasikan kegagalan teknis reaktor nuklir atau fenomena irradiation creep secara akurat. Pengalaman ini sangat berharga karena saya mendapat ilmu baru sekaligus mengasah fleksibilitas dalam menguasai bidang lain di waktu yang singkat,” kenangnya.

2016 silam, Faisal resmi menyandang gelar M.Eng Aerospace Engineering dengan penghargan First Class Honour. Mengenang masa studi di perantauan, Faisal coba berbagi dengan mereka yang berniat melakukan hal serupa, “Ada baiknya mempersiapkan terlebih dulu cara pandang dan berpikir karena di luar negeri, segala sesuatu harus dilakukan seorang diri, di lingkungan yang baru dan berbeda. Bisa jadi tidak ada keluarga yang akan membantu.”

Hal menarik dari rekan-rekannya asal Inggris adalah, mereka terbiasa membangun komitmen dan kesadaran akan sebuah pilihan sejak awal. “Itu langsung terlihat dari cara para siswa mengerjakan proyek penelitian dan berbagai penugasan, yang dilakukan sepenuh hati dan tepat waktu,” ujarnya. Keterbukaan dan kebebasan berkreasi juga menjadi kelaziman, “Kami diberi kebebasan. Anda mau bikin pesawat, kami sediakan sarananya. Ingin diskusi dengan para profesor, ibarat tinggal ketuk pintunya saja, mereka sangat terbuka.”

Kembali ke Indonesia dan berniat menenggelamkan diri ke industri dirgantara dan pertahanan, salah seorang penerima beasiswa Tjipta Pemuda Bangun Bangsa dari Eka Tjipta Foundation ini tetap bersikap membumi. Menurutnya, di Indonesia sektor ini belum sekokoh seperti di Amerika atau Eropa. Ia memahami jika di tahap awal, tidak serta merta dirinya bisa langsung tancap gas dengan kompetensi dan mimpinya di industri pertahanan. Akan tiba saatnya.











Previous Post

RUMAH BARU UNTUK POCO DAN RICH

Next Post

ETF Fellowship Gathering: Panama Papers dari Sisi Regulasi hingga Hak Asasi




More Story

RUMAH BARU UNTUK POCO DAN RICH

Matahari masih bersembunyi di ufuk timur, dan kota Pangkalan Bun masih terlalu senyap ketika mereka dibawa bersama para “pengawal”...

May 2, 2017